Pulau Jawa terletak di atas Cincin Api Pasifik, dan sedikit tempat di dunia yang memiliki begitu banyak gunung berapi aktif dalam satu pulau. Lebih dari empat puluh gunung berapi membentang di sepanjang punggung Jawa, dan beberapa di antaranya termasuk pemandangan alam paling menakjubkan di seluruh Indonesia. Bagi wisatawan yang menyukai lanskap dramatis, pendakian sebelum fajar, dan kawah yang mengepul, Jawa adalah surga. Panduan ini akan membawa Anda mengenal gunung-gunung yang wajib dikunjungi, cara mengunjunginya, dan cara tetap aman.
Gunung Bromo dan lautan pasir Tengger
Dengan ketinggian 2329 meter di dalam kaldera Tengger yang luas, Gunung Bromo adalah gunung berapi paling banyak difoto di Indonesia. Ia bukan yang tertinggi, tetapi latarnya tak terlupakan: sebuah kerucut berasap menjulang dari dataran abu vulkanik berwarna kelabu yang dikenal sebagai Lautan Pasir, dikelilingi dinding kaldera purba yang bergerigi. Sebagian besar pengunjung bangun sebelum fajar untuk mencapai titik pandang di Penanjakan, di mana cahaya pertama menampakkan Bromo, Gunung Batok di sebelahnya, dan puncak Semeru yang lebih tinggi mengepul di kejauhan.
Dari titik pandang, banyak wisatawan turun ke dalam kaldera, menyeberangi Lautan Pasir dengan berjalan kaki atau naik jip, lalu menaiki tangga menuju bibir kawah. Berdiri di sana, mendengar gemuruh kawah dan mencium bau belerang, adalah pengalaman yang kuat. Kawasan ini disucikan oleh suku Tengger, keturunan kerajaan Majapahit, yang setiap tahun melemparkan sesaji ke dalam kawah pada upacara Yadnya Kasada.
Ijen dan api biru yang menyala
Jauh di sebelah timur, dekat Banyuwangi, kawah Ijen menawarkan salah satu pemandangan paling langka di dunia. Pada siang hari ia terkenal dengan danau asamnya yang berwarna toska, danau kawah paling asam terbesar di planet ini. Namun pada malam hari Ijen menjadi benar-benar magis. Gas belerang keluar dari celah batu, menyala ketika bersentuhan dengan udara, dan terbakar dengan nyala biru listrik yang misterius. Para pendaki berangkat sekitar pukul satu atau dua dini hari, dengan lampu kepala berkelap-kelip, untuk turun ke kawah dan menyaksikan api biru sebelum matahari terbit.
Ijen juga merupakan tambang belerang yang masih aktif. Para penambang memikul keranjang berisi tujuh puluh hingga sembilan puluh kilogram belerang padat menaiki jalur kawah yang curam, dua kali sehari, demi upah yang sederhana. Bertemu mereka adalah pengingat yang menyentuh bahwa lanskap ini juga tempat kerja keras manusia. Masker gas sangat dianjurkan, karena asapnya bisa sangat menyesakkan.
Merapi, Semeru, dan raksasa Jawa Tengah
Dekat kota budaya Yogyakarta menjulang Gunung Merapi, Gunung Api, gunung berapi paling aktif di Indonesia. Letusannya telah membentuk sejarah setempat, dan lerengnya dipenuhi desa, wisata lava, dan puing rumah yang terkubur letusan masa lalu. Merapi dipantau dengan ketat, dan tur jip lava melintasi hamparan abunya adalah cara populer untuk memahami kekuatan alam gunung ini.
Semeru, dengan ketinggian 3676 meter, adalah puncak tertinggi di Jawa dan salah satu pendakian tersulit. Kawah puncaknya, Jonggring Saloka, menyemburkan abu sekitar setiap dua puluh menit, dan pendakian beberapa hari melewati danau Ranu Kumbolo yang tenang adalah upacara wajib bagi para pendaki Indonesia. Lebih jauh ke barat, dekat Bandung, danau kawah Kawah Putih bersinar dalam gradasi putih dan hijau pucat, warnanya berubah mengikuti kandungan mineral dan cahaya.
Pendakian dan keselamatan di gunung berapi Jawa
- Selalu periksa tingkat status peringatan terkini dari badan vulkanologi nasional sebelum berangkat; akses bisa ditutup sewaktu-waktu.
- Kenakan pakaian berlapis yang hangat. Suhu sebelum fajar di ketinggian bisa mendekati titik beku, bahkan di garis khatulistiwa.
- Bawa lampu kepala, sepatu kokoh, dan air yang cukup untuk pendakian dini hari di Bromo dan Ijen.
- Pakai masker gas yang benar di Ijen, bukan sekadar masker kain, dan jangan berlama-lama di dalam awan belerang tebal.
- Sewa pemandu lokal berlisensi untuk Semeru dan pendakian serius lainnya; kondisi cepat berubah.
Waktu terbaik berkunjung
Musim kemarau sekitar Mei hingga September menawarkan langit paling cerah dan peluang terbaik menikmati matahari terbit tanpa awan. Musim hujan membawa lumpur, kabut, dan jalur licin, meski juga mewarnai lereng menjadi hijau pekat. Musim apa pun yang Anda pilih, gunung berapi Jawa akan meninggalkan gambar yang membekas seumur hidup.