Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Membentang di sepanjang khatulistiwa melintasi ribuan pulau, negeri ini menyimpan hutan hujan, laut karang, dan dataran tinggi vulkanik yang menaungi makhluk yang tidak ditemukan di tempat lain. Di pusat emosional dari kekayaan alam ini berdiri orangutan, satu-satunya kera besar asli Asia dan salah satu kerabat terdekat manusia yang masih hidup.
Orangutan: Manusia Hutan yang Terancam
Nama orangutan berasal dari kata Melayu yang berarti manusia hutan, dan siapa pun yang menyaksikannya bergerak di antara tajuk pepohonan akan memahami mengapa. Ada tiga spesies, semuanya sangat terancam punah: orangutan kalimantan, orangutan sumatra, dan orangutan tapanuli, sebuah populasi tersendiri di Sumatra utara yang baru diakui sebagai spesies terpisah pada tahun 2017. Bergerak lambat, cerdas, dan sebagian besar menyendiri, orangutan menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan, membangun sarang daun baru setiap malam dan memakan buah, kulit kayu, serta dedaunan.
Kelangsungan hidup mereka berada di bawah tekanan berat. Penggundulan hutan untuk kayu, pertanian, dan terutama perkebunan kelapa sawit telah memecah dan menghancurkan wilayah habitat yang luas. Ketika hutan dibuka, orangutan kehilangan pakan sekaligus tempat berlindung, dan reproduksi mereka yang lambat, dengan betina merawat satu anak selama bertahun-tahun, membuat pemulihan menjadi sulit. Ekowisata yang bertanggung jawab telah menjadi sekutu penting, memberi nilai ekonomi pada hutan-hutan ini sekaligus mendanai konservasi.
Tanjung Puting: Perjalanan Sungai di Kalimantan
Di Pulau Kalimantan, di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat orangutan liar dan hasil rehabilitasi. Pengunjung menyusuri Sungai Sekonyer yang berwarna gelap dengan menaiki klotok, perahu sungai kayu tradisional, hanyut perlahan ke hulu. Malam dihabiskan dengan tidur di geladak di bawah bintang, ditemani suara-suara hutan.
Taman ini menjadi rumah bagi Camp Leakey, pusat penelitian dan rehabilitasi yang didirikan pada tahun 1970-an untuk mempelajari orangutan dan mengembalikan satwa yang diselamatkan ke alam liar. Di panggung-panggung pemberian pakan, orangutan muncul dari hutan untuk diamati dari jarak dekat namun tetap penuh hormat. Bekantan, owa, rangkong, dan buaya melengkapi pemandangan di sepanjang tepi sungai.
Bukit Lawang dan Hutan-Hutan Sumatra
Di Sumatra, desa Bukit Lawang berada di tepi Taman Nasional Gunung Leuser, bagian dari hutan hujan luas yang menjadi salah satu tempat terakhir di mana orangutan, harimau, gajah, dan badak masih berbagi ekosistem yang sama. Pendakian hutan berpemandu di sini menawarkan kesempatan bertemu orangutan semi-liar di antara pepohonan menjulang, bersama monyet daun Thomas serta paduan suara burung dan serangga.
Selain Kera: Raksasa Langka Indonesia
Satwa liar Indonesia jauh melampaui orangutan. Beberapa spesiesnya termasuk yang paling langka di planet ini.
- Harimau sumatra adalah subspesies harimau terkecil yang masih bertahan dan sangat terancam punah, bergantung pada sisa-sisa hutan.
- Badak jawa, salah satu mamalia besar paling langka di Bumi, hanya bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat Jawa, dengan jumlah hanya beberapa puluh ekor.
- Gajah sumatra, gajah hutan yang lebih kecil, menghadapi kehilangan habitat dan konflik dengan lahan pertanian yang meluas.
- Komodo, kadal terbesar di dunia, berkeliaran di pulau-pulau kering Komodo dan Rinca di timur.
Cendrawasih dan Hutan-Hutan Papua
Di ujung timur, Pulau Papua, yang dibagi dengan Papua Nugini, menjadi rumah bagi cendrawasih yang memukau. Burung-burung ini terkenal dengan bulu yang megah dan tarian percumbuan yang rumit dari sang jantan, dipertunjukkan di lokasi peragaan di hutan. Hutan hujan Papua yang terpencil tetap termasuk yang paling sedikit dijelajahi di Bumi dan menjadi magnet bagi para pengamat burung yang setia.
Taman Nasional dan Ekowisata yang Bertanggung Jawab
Dari laut Komodo hingga hutan gambut Kalimantan, jaringan taman nasional Indonesia melindungi warisan ini. Wisatawan dapat membantu dengan memilih pemandu berlisensi, menjaga jarak yang penuh hormat dari satwa liar, tidak pernah memberi makan dengan tangan, dan mendukung operator yang menginvestasikan kembali dana untuk konservasi dan masyarakat setempat. Dipandang demikian, perjalanan satwa liar melintasi Indonesia bukan hanya tak terlupakan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga spesies-spesies ini tetap hidup untuk masa depan.